Kamis, April 2, 2026
Beranda blog Halaman 2

MTsN 8 PIDIE KEMBALI MEMBUKA PENDAFTARAN SISWA BARU 2023-2024

0
PENERIMAAN SISWA BARU MTsN 8 PIDIE
Penerimaan Siswa Baru untuk Tahun Pelajaran 2023-2024

Madrasah Tsanawiyah Negeri 8 Pidie kembali membuka Pendaftaran Siswa Baru untuk tahun pelajaran 2023-2024.

Pendaftaran siswa baru MTsN 8 Pidie dapat dilakukan secara online atau dapat meminta bantuan kepada petugas PPDB di Lokasi MTsN 8 Pidie pada hari dan jam kerja setiap harinya kecuali hari minggu dan hari libur nasional.

Syarat Pendaftaran :

  1. Foto Copy Kartu Keluarga ( KK )
  2. Foto Copy Akte Kelahiran
  3. Foto Copy KTP kedua Orang Tua
  4. Pas Foto layar biru Ukuran 4×6 sebanyak 1 lembar
  5. Kartu No induk Siswa Nasional ( NISN )
  6. Foto Copy Kartu PIP/KIP/kks/bsm/blsm ( Bila Ada)
A. Pendaftaran

Penerimaan Siswa/i Baru dapat dilakukan secara online / offline :

Hal-hal yang belum jelas dapat menghubungi Contact Person
– 0812 6903 815 ( Bapak Drs. Riswanto )
– 0852 6026 2346 ( Bapak Zulfikar, S.Ag )
– 0852 6041 1217 ( Bapak Saiful Bahri. S.E )
– 0853 6209 6490 ( Ibu Cut Kumala Sari, S.Pd )

Brosur Penerimaan Siswa Baru

Download

 

KALENDER PENDIDIKAN ACEH 2022-2023

2

Kalender Pendidikan Aceh 2022-2023Kalender Pendidikan Sekolah/Madrasah Provinsi Aceh Tahun Pelajaran 2022/2023 ditetapkan Keputusan Bersama Kepala Dinas pendidikan Provinsi Aceh dan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh Nomor : 420/B.1/4861/2022 dan Nomor : B-1900/Kw.01.04/PP.00/05/2022 Tentang Kalender Pendidikan bagi Sekolah dan Madrasah dalam Provinsi Aceh Tahun Pelajaran 2022/2023 dimaksud untuk mewujudkan, penjadwalan, keserasian, keseragaman dan keterpaduan dalam pemberian pelayanan prima bidang pendidikan kepada semua lapisan masyarakat dipandang perlu untuk menetapkan pengaturan hari-hari efektif dan hari-hari libur Sekolah/madrasah dalam suatu kalender pendidikan sebagai pedoman penyelenggaraan dan pembinaan pendidikan

Rencana Kerja dan Anggaran Madrasah Berbasis Elektronik

0

Realizing Education’s Promise
Madrasah Education Quality Reform

 

https://erkam.kemenag.go.id/home

 

 

 

 

 

 

Roster Untuk Kelas dan Individu Guru

0

DOWNLOAD PDF Roster Masing-Masing Kelas Tahun Pelajaran 2023-2024

DOWNLOAD PDF Roster Masing-Masing Guru Tahun Pelajaran 2023-2024

Materi Pokok Nur Muhammad Bidang Studi Aqidah Akhlak Metode Ceramah

0
Guru Aqidah Akhlak ( Nuraida, S.Ag)

Implementasi Metode Pembelajaran dengan Metode Ceramah, Metode ceramah memang metode yang dari dulu diperaktekkan oleh seorang tenaga pendidikan di Sekolah dan Madrasah, memang metode tersebut tidak bisa digunakan untuk semua materi pembelajaran namun untuk Pokok bahasan tentang Nur Muhammad dalam bidang studi Aqidah Akhlak yang disampaikan oleh ibu Nuraida, S.Ag ini sangat cocok dengan metode tersebut dan anak didik mendengar dan memberi respon terhadap materi itu

” Nur Muhammad saat berhadapan dengan mir’atul hayah (cermin malu) merasa malu dengan kegantengan dan ketampanan Nur Muhammad sehingga mengeluarkan keringat, dari keringat tersebut Allah ciptakan ummat dan Alam semesta ini”. kata Ibu Nuraida, S.Ag tersebut.


Vidio Pembelajaran Materi Nur Muhammad

 

E-LEARNING PENYEGARAN PPSPM

0

E-Learning ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan Pejabat Penandatangan SPM yang memiliki kompetensi sesuai dengan peraturan yang berlaku

Informasi

Vidio Pentingnya Penilaian PPSPM

Hari Pertama Masuk Sekolah 3 Januari 2023 Guru dan Pegawai Honor MTsN 8 Pidie Panik

0
mtsn 8 pidie

Awal pertama masuk sekolah para Guru dan Pegawai Honor di Madrasah Tsanawiyah Negeri 8 Pidie disibukkan dengan kegiatan pengumpulan berkas Pendaftaran Calon PPPK Kementrian Agama RI, dengan waktu yang singkat dan tidak adanya kejelas tentang prosedur serta administrasi apa saja yang dipersiapkan Calaon penerimaan PPPK, hal inilah yang mengakibatkan para Guru dan Pegawai Honor tersebut antusias walau dalam keadaan kebingungan bahkan dari Guru dan pegawai Honor tersebut ada yang terlihat panik.

 

MTsN 8 Pidie Kembali Menerima Siswa Baru 2022 / 2023

0

WAKTU DAN TEMPAT PENDAFTARAN / DAFTAR ULANG

Pendaftaran Siswa/i Baru MTsN.8 Pidie Tahun Ajaran 2022- 2023 Di buka Mulai Tanggal 01 Maret s.d 11 Juni 2022.

Syarat Pendaftaran Online / Offline
  1. Foto Copy Kartu Keluarga ( KK )
  2. Foto Copy Akte Kelahiran
  3. Foto Copy KTP kedua Orang Tua
  4. Pas Foto layar biru Ukuran 4×6 sebanyak 1 lembar
  5. Kartu No induk Siswa Nasional ( NISN )
  6. Foto Copy Kartu PIP/KIP/kks/bsm/blsm ( Bila Ada)

BROSUR PENDAFTARAN

A. Pendaftaran

Penerimaan Siswa/i Baru dapat dilakukan secara online / offline :

  1. Online pada link https://dimad.mtsn8pidie.com/daftar_baru1_list.php
  2. Offline, datang langsung ke MTsN 8 Pidie, Jalan Garot-Reubee Desa Keureunbok Aree Kecamatan Delima.
  3. Hal-hal yang belum jelas dapat menghubungi Contact Person (zulfikar 085260262346,irawan 082304410202)
B. Daftar Ulang

Calon Siswa/i yang telah mendaftar maka pendaftaran ulang calon siswa/i akan dibuka mulai tanggal 13 Juni s.d 11 Juli 2022, membawa calon peserta dan orang tua dengan  persyaratan sebagai berikut:

  1. Membawa Kartu Pendaftaran Online / Ofline
  2. Foto Copy Raport MI / SD
  3. Pas Photo 3×4 layar biru 5 lembar
  4. CD Foto Calon Siswa
  5. 1 lembar materai 10.000
  6. Menandatangani Pernyataan / Fakta Integritas
C. Bonus

Bagi wali atau siswa/i yang mendaftar di MTsN 8 Pidie akan mendapatkan 1 (satu) set pakain Olahraga pada pendaftaran ulang

Penerapan Model Guided Discoverry dalam Pembelajaran IPA

0
Pose

Proses  pembelajaran  merupakan jantung dari keseluruhan proses pendidikan formal, karena melalui sebuah proses pembelajaran terjadi transfer ilmu dari guru ke siswa yang berisi berbagai tujuan pendidikan. Tentunya kualitas pendidikan  tidak terlepas dari peran utama guru yang dituntut untuk mewujudkan hasil belajar yang baik dan membanggakan   untuk  siswa-siswanya.   Salah satu cara yang tepat yang dapat dilakukan oleh guru yaitu memilih model pembelajaran yang sesuai  dengan  kondisi  kelas,  tujuan pembelajaran maupun materi yang hendak diajarkan.

Beragam  model  pembelajaran yang dapat digunakan untuk menghasilkan proses belajar mengajar yang lebih berkualitas, tentunya dengan  pemilihan  model  pembelajaran   yang tidak sembarangan. Namun yang menjadi permasalahan adalah dibeberapa sekolah umumnya masih menggunakan model pembelajaran   yang  kurang  tepat  khususnya pada pembelajaran fisika yang tampaknya lebih banyak   dirancang   dengan   metode   ceramah atau model pembelajaran tradisional. Dengan metode ceramah guru terkesan monoton dalam penyampaian  materi dan kurang mendapatkan respon yang positif dari siswa.

Pembelajaran  IPA  harus  menekankan pada penguasaan kompetensi melalui serangkaian proses ilmiah. Dari pengertian tersebut dapat diketahui bahwa pembelajaran IPA bukan hanya menyampaikan informasi secara lisan (ceramah) ataupun tertulis (catatan), namun dituntut adanya keaktifan siswa sehingga dalam pembelajaran siswa dituntut dapat membuktikan sendiri konsep-konsep IPA melalui keterampilan proses dengan berbagai metode pembelajaran.

Dalam proses pembelajaran model guided discovery, siswa diarahkan untuk menemukan konsep-konsep. Pada proses pembelajaran ini, siswa didorong untuk berpikir dan menganalisis sendiri, sehingga dapat menemukan konsep berdasarkan bahan atau data yang telah disediakan. Pada pembelajaran ini, siswa diarahkan untuk terlibat aktif di dalam proses belajar di bawah bimbingan guru untuk menemukan konsep-konsep.

Pembelajaran model guided discovery melibatkan keaktifan siswa dalam memperoleh keterampilan intelektual, sikap, dan keterampilan psikomotorik sehingga cocok   untuk   diterapkan   pada   pembelajaran IPA. Pembelajaran   IPA dengan menggunakan model pembelajaran guided discovery akan membuat kegiatan belajar mengajar menjadi lebih aktif, siswa akan  mencari dan menemukan dengan teknik pemecahan masalah sehingga menumbuhkan motivasi serta partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran IPA.

Beberapa hasil penelitian yang mengkaji penerapan model guided discovery adalah Penelitian Vera, J. dkk, (2012), yang mengkaji pengaruh penggunaan metode pembelajaran Guided Discovery  dalam meningkatkan aktivitas dan penguasaan materi oleh siswa, melaporkan bahwa aktivitas belajar siswa mengalami peningkatan, yaitu mengajukan pendapat (84,72), mengajukan  pertanyaan (75,00),  dan menjawab pertanyaan (77,78). Penguasaan materi siswa juga mengalami peningkatan, dengan rata-rata nilai N-gain sebesar 43,96. Dengan demikian, signifikan dalam meningkatkan aktivitas dan penguasaan materi oleh siswa pada materi pokok ciri-ciri makhluk hidup.

Hasil penelitian Akinyemi, O (2010) menyebutkan bahwa guided discovery lebih efektif dalam meningkatkan hasil  belajar siswa diikuti dengan metode demonstrasi, sedangkan metode tradisional kurang efektif karena siswa lebih pasif. Dari hasil penelitian dapat digambarkan bahwa dengan menggunakan guided discovery pembelajaran lebih efektif.

Model merupakan tiruan atau konsepsi dari benda atau keadaan yang sesungguhnya, sebagai gambaran atau contoh yang bermanfaat dalam pemecahan masalah. Jika siswa belajar menemukan sesuatu dikatakan ia belajar melalui penemuan. Bila guru mengajar siswa tidak dengan memberitahu tetapi memberikan kesempatan atau berdialog dengan siswa agar ia menemukan sendiri, cara guru mengajar demikian disebut model Guided Discovery.

Model penemuan merupakan komponen dari suatu bagian praktik pendidikan yang seringkali diterjemahkan sebagai mengajar heuristik, yakni suatu jenis mengajar yang meliputi model-model yang dirancang untuk meningkatkan rentangan keaktifan siswa yang lebih besar, berorientasi kepada proses, mengarahkan pada diri sendiri, mencari sendiri, dan refleksi yang sering muncul sebagai kegiatan belajar.  Roestiyah, (2001:145) mengemukakan   bahwa   guided discovery adalah   proses mental  di mana  siswa mengasimilasikan  sesuatu  konsep  atau sesuatu prinsip. Proses mental tersebut misalnya, mengamati, menggolong- golongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, membuat kesimpulan   dan   sebagainya.

Jerome Bruner dalam Sardiman, (2003:138), penemuan adalah suatu proses, suatu jalan/cara dalam mendekati permasalahan bukannya suatu produk atau item pengetahuan tertentu. Proses penemuan dapat menjadi kemampuan umum melalui latihan pemecahan masalah dan praktek membentuk dan menguji hipotesis. Di dalam pandangan Bruner, belajar  dengan  penemuan  adalah  belajar  untuk  menemukan,  di mana  seorang  siswa dihadapkan dengan  suatu  masalah  atau  situasi  yang tampaknya  ganjil  sehingga siswa dapat  mencari  jalan pemecahan.

Menurut Sund, dalam Suryosubroto, (2006: 193), guided discovery merupakan bagian dari inquiri, atau inquiri merupakan perluasan proses discovery yang digunakan lebih mendalam. Guided discovery adalah proses mental di mana siswa mengasimilasi suatu konsep atau suatu prinsip. Proses mental tersebut misalnya mengamati, menggolongkan, membuat simpulan dan sebagainya.  Bruner  menganggap bahwa belajar penemuan sesuai dengan pencarian pengetahuan secara aktif oleh manusia, sehingga belajar dengan penemuan akan memberikan hasil yang paling baik. Lebih lanjut Bruner mengatakan bahwa belajar bermakna hanya dapat terjadi melalui belajar penemuan.

Berbeda dengan Bruner, Ausubel pendapat bahwa belajar bermakna tidak hanya terjadi melalui penemuan. Belajar akan bermakna jika informasi yang akan dipelajari siswa disusun sesuai dengan struktur kognitif yang dimiliki siswa sehingga siswa dapat mengaitkan informasi baru dengan struktur kognitif yang dimilikinya. Ausubel menambahkan bahwa metode penemuan aplikasinya terbatas dan membuang-buang waktu, karena itu perlu ada guided discovery.

Selanjutnya, Herman, H (2004:11), mendefinisikan model penemuan sebagai prosedur pembelajaran yang mempunyai tekanan siswa berlatih cakap mencapai tujuan dan siswa aktif mengadakan percobaan atau penemuan sendiri sebelum membuat kesimpulan dari yang dipelajari. Dengan demikian, materi yang akan dipelajari siswa tidak disajikan dalam bentuk final. Siswa harus melakukan aktivitas mental yang mungkin melibatkan aktivitas fisik dalam upaya memperoleh pemahaman pada materi tertentu.

Selama proses penemuan, siswa memanipulasi, membuat struktur, dan mentransfer informasi sehingga menemukan informasi baru yang berupa hipotesis, atau kebenaran Ilmu Pengetahuan Alam. Sehubungan dengan model guided discovery, Herman, H (2004:5) menegaskan bahwa siswa memerlukan bimbingan setapak demi setapak untuk mengembangkan kemampuan memahami pengetahuan baru.

Bimbingan dapat dilakukan melalui instruksi lisan atau tulisan untuk memperlancar belajar suatu konsep atau hubungan-hubungan IPA. Dengan demikian, pembelajaran guided discovery melibatkan aktivitas guru dan siswa secara maksimal. Siswa aktif melakukan penemuan dan guru aktif memberi bimbingan secara bertahap dan menciptakan lingkungan yang memungkinkan siswa melakukan proses penemuan.

Model pembelajaran guided discovery merupakan model pembelajaran yang berangkat dari suatu pandangan bahwa peserta didik sebagai subyek di samping sebagai obyek pembelajaran. Mereka memiliki kemampuan dasar untuk berkembang secara optimal sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki. Proses pembelajaran harus dipandang sebagai suatu stimulus atau rangsangan yang dapat menantang peserta didik untuk merasa terlibat atau berpartisipasi dalam aktivitas pembelajaran.

Peranan guru hanyalah sebagai fasilitator dan pembimbing atau pemimpin pembelajaran, sehingga diharapkan peserta didik lebih banyak melakukan kegiatan sendiri atau dalam bentuk kelompok memecahkan masalah atas bimbingan guru. Model pembelajaran guided discovery dapat pula diartikan sebagai suatu prosedur mengajar yang mengutamakan pengajaran perseorangan (individu), manipulasi obyek dan lain-lain, sebelum sampai kepada generalisasi. Dalam menerapkan model pembelajaran guided discovery, guru terlebih dahulu harus mampu merumuskan lagkah-langkah pembelajaran sesuai dengan tingkat  perkembangan  kompetensi  dasar  yang  dimiliki  siswa.

Langkah-langkah Pembelajaran Model Guided Discovery

Selanjutnya, langkah-langkah pembelajaran model Guided Discovery adalah sebagai berikut :

No Tahapan-Tahapan Kegiatan Guru
1 Pemberian rangsangan

(Stimulasi)

Menyampaikan tujuan pembelajaran, memotivasi siswa dengan mengajukan beberapa pertanyaan, anjuran membaca buku untuk menghadap siswa  pada kondisi yang mendorong eksplorasi melalui eksperimen. Memberi kesempatan kepada siswa untuk menyusun hipotesis
2 Identifikasi masalah Guru membimbing siswa mengurutkan langkah-langkah eksperimen sesuai lks, dan meminta perwakilan kelompok untuk mengambil alat dan bahan percobaan. Membimbing siswa untuk menemukan informasi melalui percobaan.
3 Pengumpulan data Memberi kesempatan kepada masing-masing kelompok untuk berdiskusi, mencatat serta menjawab pertanyaan yang ada dalam lks. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya  yang relevan untuk membuktikan kebenaran hipotesis.
4 Pengolahan data Memberi kesempatan kepada siswa/kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusi tentang percobaan yang telah dilakukan. Memberi kesempatan kepada kelompok lain untuk menanggapi hasil diskusi yang telah dipresentasikan.
5 Verifikasi Guru meluruskan konsep yang sudah didapat siswa melalui eksperimen yang telah dilakukan.
6 Generalisasi

(menarik kesimpulan)

Guru membimbing siswa menyimpulkan pelajaran yang telah dipelajari. Guru memberi tugas rumah kepada siswa dan menutup kegiatan pembelajaran dengan berdoa.

Sumber : Muhibbin, Syah (2004:244)

Kelebihan Penerapan Model Guided Discovery

Ada beberapa kelebihan penerapan model guided discovery dalam peningkatan hasil belajar siswa terutama dalam bidang studi IPA yaitu sebagai berikut:

  1. Pembelajaran berpusat pada siswa

Model pembelajaran penemuan merupakan model pembelajaran yang mengatur pengajaran sedemikian rupa sehingga anak memperoleh pengetahuan yang sebelumnya belum diketahuinya itu tidak melalui pemberitahuan, sebagian atau seluruhnya ditemukan sendiri. Dalam menemukan konsep, siswa melakukan pengamatan, menggolongkan, membuat dugaan, menjelaskan, menarik kesimpulan dan sebagainya untuk menemukan beberapa konsep atau prinsip.

  1. Mendorong kemandirian dan inisiatif belajar pada siswa

Penggunaan model pembelajaran penemuan menghargai gagasan-gagasan atau pemikiran siswa serta mendorong siswa berpikir mandiri, berarti guru membantu siswa menemukan identitas intelektual mereka. Model pembelajaran ini telah mengembangkan tanggung jawab terhadap proses belajar mereka sendiri serta menjadi pemecah masalah.

  1. Mendorong siswa untuk berpartisipasi aktif

Model Guide Discovery sesuai dengan karakteristik IPA yakni melatih berpikir logis dan sistematis melalui kegiatan guided discovery yang di dalam kegiatan pembelajarannya siswa melakukan percobaan sendiri agar konsep-konsep tersebut bisa ditemukan. Siswa mengalami sendiri dan terlibat secara aktif dalam pembelajaran, hal tersebut akan membuat siswa lebih mengingat dan susah lupa tentang materi yang telah diajarkan berdasarkan hasil penemuannya.

  1. Memberi pengalaman langsung kepada siswa

Penerapan model guided discovery diprediksi dapat meningkatkan pembelajaran IPA akan berpengaruh pula pada hasil  pembelajaran peserta didik yang meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotor. Karena pada  penemuan, menekankan agar peserta didik terlibat langsung dalam pembelajaran sehingga peserta didik dapat mengalami dan menemukan sendiri konsep-konsep yang harus ia kuasai.

Ada beberapa kelemahan penerapan model guided discovery dalam peningkatan hasil belajar siswa dalam bidang studi IPA. Dalam Pembelajaran guided discovery tugas guru cenderung menjadi fasilitator. Tugas ini tidaklah mudah, lebih-lebih kalau menghadapi kelas besar atau siswa yang lambat atau sebaliknya amat cerdas. Karena itu sebelum melaksanakan metode pembelajaran dengan penemuan ini guru perlu benar-benar mempersiapkan diri dengan baik. Persiapan ini dilakukan baik dalam tiap hal pemahaman konsep-konsep yang akan diajarkan maupun memikirkan kemungkinan yang akan terjadi di kelas sewaktu pembelajaran tersebut berjalan. Dengan kata lain, guru perlu mempersiapkan pembelajaran dengan cermat.

Selain memiliki beberapa keuntungan, metode discovery (penemuan) juga memiliki beberapa kelemahan, di antaranya membutuhkan waktu belajar yang lebih lama dibandingkan dengan belajar menerima. Untuk mengurangi kelemahan tersebut maka diperlukan bantuan guru. Bantuan guru dapat dimulai dengan mengajukan beberapa pertanyaan dan dengan memberikan informasi secara singkat. Pertanyaan dan informasi tersebut dapat dimuat dalam lembar kerja siswa (LKS) yang telah dipersiapkan oleh guru sebelum pembelajaran dimulai.

Membangun Budaya Baca di Lingkungan Madrasah

0
98300

Membaca merupakan suatu kegiatan untuk mendapatkan pengetahuan dan informasi. Kepandaian membaca biasanya diperoleh dari sekolah. Kepandaian membaca ini merupakan suatu keterampilan yang sangat unik serta berperan penting bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan untuk alat komunikasi bagi kehidupan setiap manusia. Seseorang akan memperoleh informasi dan ilmu pengetahuan yang baru dengan membaca. Setelah membaca, kita akan mendapat peningkatan daya pikiran dan mempertajam pandangan, serta menambah wawasan. Sehingga kegiatan membaca sangat diperlukan oleh siapapun yang menginginkan kemajuan dan peningkatan diri.

Menurut Mr.Hodgson terbitan tahun 1960 halaman 43-44, definisi membaca yaitu proses yang dilakukan oleh para pembaca agar mendapatkan pesan, yang akan disampaikan dari penulis dengan perantara media kata-kata maupun bahasa tulis. Apabila pesan tersurat dan tersirat dapat dipahami, maka proses dari membaca itu akan terlaksana secara baik. Selanjutnya, Soedarso berpendapat bahwa “Membaca adalah aktivitas yang kompleks dengan mengerahkan sejumlah besar tindakan yang terpisah-pisah, meliputi orang harus menggunakan pengertian dan khayalan, mengamati, dan mengingat-ingat.

Ada beberapa alasan mengapa kita harus senantiasa membaca. Pertama, membaca sebagai sarana untuk memperoleh pengetahuan. Kedua, membaca merupakan sarana pergaulan. Ketiga, membaca merupakan salah satu sarana hiburan. Keempat, membaca dapat mendatangkan rezeki. Kelima, membaca dapat menjadi sarana mensyukuri karunia Tuhan Yang Maha Esa. Keenam, membaca sebagai sarana koreksi diri.

Program Budaya Baca menjadi salah satu materi pelatihan yang dikembangkan oleh USAID PRIORITAS. Mengapa Program Budaya Baca dianggap penting? Ketrampilan membaca sangat penting untuk kesuksesan pembelajaran di Madrasah dan dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak yang membacanya baik atau hobi membaca, biasanya akan mencapai hasil yang baik dalam mata pelajaran. Pengetahuan dan kemampuannya juga akan lebih luas dan terbuka dibandingkan dengan siswa lain yang kurang gemar membaca. Madrasah dapat membantu anak-anak untuk belajar menyukai buku dengan menerapkan “Program Membaca” dan menciptakan “Budaya Baca.”

Budaya membaca tidak terjadi dengan sendirinya, perlu proses pengenalan, pembiasaan, atau bila perlu sedikit paksaan agar menjadi sebuah kebiasaan. Pada tataran Madrasah, perlu dibentuk sebuah sistem pendidikan yang menimbulkan kegairahan belajar dan membaca. Perangkat inilah yang nantinya secara psikologis memaksa berbagai komponen Madrasah untuk memiliki kebiasaan membaca atau bahkan menulis sekalipun. Budaya baca adalah suatu kebiasaan yang telah menjadi bagian dari cara hidup seseorang atau masyarakat dalam memperoleh informasi dari media cetak atau tulis dengan menggunakan aksara tertentu.

Mengingat pentingnya kegiatan membaca dalam kehidupan sehari-hari, Presiden Soekarno dalam pertengahan tahun 1960-an menyerukan kepada segenap bangsa Indonesia untuk membiasakan diri membaca agar dapat menambah ilmu pengetahuan. Pentingnya kegiatan membaca dalam kehidupan sehari-hari juga diserukan kembali oleh Presiden Soeharto dalam penetapan Bulan Mei sebagai Bulan Buku Nasional  pada tgl 2 Mei 1975 di Pontianak,  penetapan Bulan September sebagai Bulan Gemar Membaca dan Hari Kunjung Perpustakaan pada tgl 14 September 1995 di Istana Negara, Jakarta, penetapan Gerakan Wakaf Buku Nasional pada tgl 7 Desember 1995 di Pusat Konvensi Hilton Jakarta,  dan peresmian Perhimpunan Masyarakat Gemar Membaca (PMGM) pada tgl 31 Mei 1996.

Hari Aksara, Hari Kunjung Perpustakaan, Bulan Membaca, dan Wakaf Buku tahun 1995,  Di samping itu diselenggarakan pula Kongres Perbukuan Nasional yang diselenggarakan tgl 29 s.d. 31 Mei 1995 di Jakarta. Pencanangan, peresmian, dan kongres itu dimaksudkan agar segenap bangsa Indonesia memberikan perhatian terhadap membaca sebagai suatu unsur dari budaya bangsa. Kemudian, Presiden Megawati Soekarnoputri menyerukan kepada segenap komponen bangsa Indonesia untuk mensukseskan Gerakan Membaca Nasional pada tahun 2003. Terakhir pada masa pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu (KIB), Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mencanangkan Gerakan Pemberdayaan Perpustakaan di Masyarakat pada tanggal 12 Mei 2006.

Dari gambaran pentingnya membaca, ternyata minat baca masyarakat Indonesia sangatlah rendah, bahkan membaca tidak terlalu populer di kalangan masyarakat Indonesia. Hal ini bisa dilihat dari data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS). Bahwa, masyarakat kita belum menjadikan kegiatan membaca sebagai sumber utama mendapatkan informasi. Orang lebih memilih menonton TV (85,9%) dan/atau mendengarkan radio (40,3%) ketimbang membaca koran (23,5%). Data lainnya, misalnya International Association for Evaluation of Educational (IEA). Tahun 1992, IAE melakukan riset tentang kemampuan membaca murid-murid Sekolah Dasar (SD) kelas IV 30 negara di dunia.

Kesimpulan dari riset tersebut menyebutkan bahwa Indonesia menempatkan urutan ke-29.  Ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia belum memiliki budaya membaca. Jadi tidak heran apabila sumber daya manusia di Indonesia juga rendah yang menyebabkan kurang majunya Indonesia dibanding negara tetangga.

UPAYA MENGEMBANGKAN BUDAYA BACA DI MADRASAH

Umumnya Madrasah-Madrasah di Kabupaten Pidie baik tingkat MI, MTs maupun MA belum menerapkan budaya baca di madrasah, hanya beberapa Madrasah saja yang sudah menerapkan budaya baca, itu pun belum maksimal dilaksanakan karena masih banyak kendala-kendala yang dihadapi madrasah terutama menyangkut dengan sarana dan fasilitas yang belum memadai.

Penulis merupakan salah seorang Fasilitator Daerah yang dilatih oleh USAID PRIORITAS untuk menerapkan budaya baca di sekolah-sekolah yang menjadi mitra USAID PRIRITAS. Dari hasil pendampingan yang penulis lakukan untuk 8 sekolah mitra (5 SMP dan 3 MTs), dari tiga MTs hanya satu yang sudah menerapkan budaya baca namun belum maksimal disebabkan berbagai kendala. Demikian juga untuk tingkat MI dan MA hanya sebagian kecil saja yang menerapkan budaya baca, pada hal budaya baca sangat penting bagi perkembangan kognitif anak.

Penulis akan mencoba berbagi pengalaman beberapa upaya yang sudah dilakukan untuk meningkatkan minat baca siswanya setelah bekerja sama dengan USAID PRIORITAS dan pernah melakukan pendapingan pada delapan Sekolah  mitra diantaranya :

  1. Keteladanan

Keteladanan merupakan sebuah perilaku seseorang yang bisa dijadikan sebagai contoh yang baik sehingga tindakan atau perilakunya itu diikuti oleh orang lain. Untuk mewujudkan hal ini harus diawali dari Kepala Madrasah, Guru dan Staf administrasi mau membaca disela-sela melaksanakan tugasnya di Madrasah dengan menyediakan waktu 15 menit sebelum pelajaran dimulai. Sediakan Waktu Khusus Membaca Rutin Ini bisa dilakukan dengan menyediakan waktu khusus 15 menit sebelum jam pelajaran dimulai sesuai dengan instruksi Mendikbud tahun 2015. Khusus untuk membaca rutin ini madrasah boleh menambah waktu 30 menit karena sebelumnya diawali dengan membaca Al-Qur’an terlebih dahulu.  Yang perlu diperhatikan dalam kegiatan ini tentunya keteladanan Kepala Madrasah, guru dan staff administrasi untuk ikut membaca bersama dengan siswa.

  1. Mata Pelajaran

Masukan budaya baca ini dalam daftar pelajaran (roster) untuk hari tertentu misalnya hari rabu dan sabtu jam pertama. Setiap siswa wajib membaca selama 1 jam pelajaran pertama dengan diawasi oleh guru yang mengajar pada jam tersebut. Dengan mengatur sudut baca pada setiap kelas, membuat rak buku di depan kelas masing-masing atau boleh juga buku di bawa dari perpustakaan dengan bantuan tenaga pustaka

  1. Libatkan Orang Tua Siswa

Alangkah baiknya sebelum pelaksanaan program ini sosialisasikan terlebih dahulu terhadap orang tua siswa agar mereka memahami dan ikut mendukung program ini dan ikut terlibat mendampingi anaknya di rumah untuk membaca. Di samping itu, orangtua juga perlu menetapkan jam wajib baca. Orang tua menyisihkan waktunya untuk membaca buku, atau sekadar menemani anak-anaknya membaca buku. Dengan begitu, anak-anak akan mendapatkan contoh teladan dari kedua orang tuanya secara langsung.

  1. Menata Perpustakaan

Buatlah perpustakaan menjadi tempat yang nyaman dan menyenangkan agar siswa betah diperpustakaan, pajang buku di tempat yang mudah terjangkau oleh siswa, buatlah kegiatan yang menantang dan menyenangkan bagi siswa di perpustakaan, permudah akses siswa ke perpustakaan dengan membuat perpustakaan berbasis IT kita bisa menggunakan program senayan, berikan reward kepada siswa yang paling sering berkunjung dan membaca di perpustakaan, jangan lupa minta tagihan resensi buku dari yang sudah dipinjam oleh siswa.

  1. Menata Lingkungan Madrasah

Manfaatkan ruang kosong atau taman Madrasah untuk dijadikan tempat menyimpan buku dan membaca yang nyaman bagi siswa, sediakan sudut baca ditiap kelas, manfaatkan mading kelas dan mading Madrasah untuk dijadikan sarana pembelajaran dan membaca siswa, manfaatkan produk pembelajaran siswa ditempel didinding kelas agar mudah dibaca oleh siswa.

  1. Pastikan Ketersediaan Buku Bacaan

Agar tidak membosankan pastikan buku-buku bacaan di perpustakaan selalu update dengan membeli buku bacaan baru dengan menggunakan dana BOS ataupun sumbangan dari siswa, Komite Madrasah ataupun alumni, bisa juga dengan melakukan pertukaran buku dengan perpustakaan Madrasah yang lain dan bekerjasama dengan perpustakaan daerah.

  1. Membuat Slogan-Slogan Membaca

Mewajibkan semua siswa, guru dan karyawan madrasah untuk membudayakan membaca, dan membuat slogan-slogan di kelas seperti tiada hari tanpa membaca, gunakan waktu luang untuk membaca dan buku adalah jendela ilmu pengetahuan. Dengan membuat kegiatan yang bersifat rekreatif dan edukatif diharapkan dapat membangun minat baca dikalangan siswa madrasah.

  1. Propaganda Membaca

Untuk melakukan propaganda kebiasaan membaca, Madrasah harus memulai dengan kebiasaan membaca bagi guru sebagai panutan bagi seluruh masyarakat sekolah. Jika kebiasaan membaca bagi guru sudah tumbuh baru propaganda ke masyarakat Madrasah lainnya dapat dilakukan. Setelah tumbuh kebiasaan membaca bagi guru, maka akan sangat mudah guru melakukan propaganda membaca di ranah siswa dan masyarakat Madrasah lainnya. Di ranah siswa, propaganda kebiasaan membaca dapat dilakukan dengan melakukan berbagai macam kompetisi atau lomba-lomba antar siswa dengan cabang kompetisi/lomba dari kegiatan yang berbasis pada aktivitas membaca. Di antara kompetisi/lomba tersebut antara lain lomba baca/menulis cerpen, puisi, sinopsis, cerita, karya ilmiah remaja, mengisi majalah dinding dan yang sejenisnya. Untuk mendukung suksesnya kebiasaan membaca, hadiah lomba berupa buku-buku terkini yang dapat menginspirasi siswa.

Dari beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk menciptakan budaya baca di Madrasah dapat disimpulkan bahwa kebiasan-kebiasaan membaca yang telah tumbuh di lingkungan Madrasah selanjutnya perlu dikembangkan agar menjadi budaya. Jika kebiasaan membaca yang telah tumbuh tidak dirawat dan diperhatikan, maka kebiasaan itu akan hilang lagi dan kembali pada kebiasaan lama. Untuk itu, suasana pendukung perlu diciptakan agar budaya baca tersebut dapat tumbuh dan berkembang. Iklim pendukung budaya baca diantaranya dapat diciptakan dengan menyediakan sudut-sudut baca di sekitar Madrasah, dan menyediakan buku-buku bacaan terkini yang menarik dan menginspirasi.

INFORMASI PENTING

SCHEDULE UJIAN AKHIR SEMESTER MTsN 8 PIDIE TAHUN 2024-2025

0
BAHASA ARAB P J O K QURAN HADITS

Exambro – Exam Browser

0
Silahkan Tekan Link ini untuk menginstal Aplikasi Exambro Link Simulasi

ROSTER UJIAN AKHIR MADRASAH SUSULAN TAHUN 2025

0
Ujian susulan madrasah adalah ujian yang diberikan kepada siswa yang tidak bisa mengikuti ujian utama karena alasan yang sah, seperti sakit, musibah keluarga, atau...

Roster Ujian MTsN 8 Pidie Kelas 9 Tahun Pelajaran 2024-2025

0
Ujian Susulan Bhs. Idonesia Ujian Susulan SKI Ujian akhir bukanlah akhir dari segalanya. Ia adalah awal dari langkah baru dalam meraih cita-cita dan masa...

POJOK SISWA